ADAPTASI PEMBELAJARAN NASIONAL DALAM KONDISI PANDEMIC COVID-19 TANPA MELUPAKAN SEMANGAT KI HAJAR DEWANTARA

Oleh : Tia Rahmania, M.Psi.,Psikolog
Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina
Ketua APSI Wilayah Banten

Apabila saat pandemic Covid-19 ini Ki Hajar Dewantara masih hidup, barangkali Beliau akan berada dalam kondisi khawatir karena saat ini semua orang menjaga jaraknya sehingga untuk berada dalam institusi untuk bisa belajar bersama tidak dimungkinkan.

Walaupun dalam hal ini kita semua dipaksa untuk menyesuaikan diri untuk bisa melakukan pembelajaran secara daring, tetap saja ada hal yang penting dapat terabaikan. Ki Hajar Dewantara meyakini pendidikan itu dilaksanakan dalam rangka kesempurnaan hidup manusia (Asmuni, 2012).

Manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2016) menyebutkan cipta bermakna kemampuan pikiran untuk mengadakan sesuatu yang baru; angan-angan yang kreatif. Sementara karsa bermakna daya (kekuatan) jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak.

Adapun karya adalah hasil perbuatan; buatan; ciptaan (terutama hasil karangan). Pendidikan harus mampu mengupayakan terbentuknya kecerdasan akal yang dibarengi dengan kecerdasan moral-spritual. Perpaduan dua kecerdasan ini akan tampak dalam sikap dan pemikiran. Sebaliknya, kecerdasan moralitas tidak akan ter-upgrade tanpa dorongan pemahaman akal yang mumpuni.

Maka kesempurnaan hidup manusia itu jika terdapat pengembangan semua daya secara seimbang (Asmuni, 2012).
Kebijakan kuliah daring (online) saat ini menjadi topik yang cukup hangat dalam pendidikan di Indonesia semenjak dikeluarkannya Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 pada Satuan Pendidikan, sebagai upaya pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19).

Metode belajar dipaksa berubah menggunakan media online atau kuliah daring. Sementara mahasiswa yang biasanya melakukan perkuliahan dikampus, terbiasa dengan pergi kekampus untuk belajar, berdiskusi sekaligus bermain dengan teman.

Mahasiswa dapat belajar kapanpun dan di manapun dalam kuliah daring. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan media internet sehingga dosen dan mahasiswa tidak harus melakukan pembelajaran tatap muka dalam satu ruangan. Teknologi yang muncul sekarang juga memungkinkan untuk pembentukan pembelajaran sinkron (synchronous) dan asinkron (asynchronous) melalui penggunaan internet (Beldarrain, 2006).

Mahasiswa dapat berinteraksi dengan dosen baik secara synchronous yaitu interaksi belajar pada waktu yang bersamaan seperti dengan menggunakan video converence, telepon atau live chat, maupun asynchronous yaitu interaksi belajar pada waktu yang tidak bersamaan melalui kegiatan pembelajaran yang telah disediakan secara elektronik.

BAGAIMANA TENTANG PEMBELAJARAN DARING?
U.S. Department of Education (2010) menyatakan siswa yang mengambil semua atau sebagian kursusnya secara online berkinerja lebih baik, ataupun rata-rata, daripada mereka yang mengambil kursus yang sama melalui instruksi tatap muka tradisional. Shachar M., & Neumann, Y., (2010) menyampaikan bahwa dalam studi eksperimental dan quasi-eksperimental yang ditetapkan secara meta-analisis (data lebih dari 20.000 siswa yang berpartisipasi) menunjukkan bahwa dalam 70 persen kasus, siswa yang mengambil kursus dengan pendidikan jarak jauh bisa mengungguli rekan-rekan siswa yang mengikuti kursus dengan pembelajaran secara tradisional (tatap muka langsung).

Tinjauan lebih lanjut dari studi eksperimental dan quasi-eksperimental yang membandingkan berbagai jenis praktik pembelajaran online ditemukan (Baum, 2020) bahwa ketika dibandingkan antara pembelajaran yang menggunakan metode mix (blended learning) dan murni online, hasil pembelajaran siswa biasanya sebanding.

Walaupun begitu mengikuti pendidikan tinggi melalui pembelajaran daring dapat berpotensi sangat menegangkan (Ramos & Borte, 2012; Capdeferro & Romero, 2012 dalam Hoang, 2020). Siswa tanpa latar belakang akademis/motivasi akademis yang kuat cenderung kurang bertahan dalam kursus online secara penuh daripada dalam kursus yang melibatkan kontak pribadi antara dosen/fakultas dengan siswa; dan kalaupun mereka bertahan, mereka memiliki hasil yang lebih rendah.

Hal ini menunjukan pentingnya interaksi mahasiswa-pengajar/institusi dalam pembelajaran daring. Berbagai penelitian memang telah memperlihatkan bahwa interaksi sosial adalah titik lemah pembelajaran daring (Protopsaltis & Baum, 2019)

Interaksi telah dilihat sebagai unsur penting untuk keberhasilan siswa; telah dikemukakan bahwa bahkan para siswa dapat berkembang jauh lebih cepat dan mendapatkan pemahaman yang lebih maju selama mereka berinteraksi dengan individu lain, terutama dari sosok yang lebih berpengalaman (Jarvis, 2005, dalam Hoang, 2015)). Telah ditemukan juga bahwa ketika peserta pendidikan daring menganggap tingkat interaksi mereka tinggi dengan pengajar/institusi atau siswa lain, mereka merasa lebih senang dibandingkan ketika mereka mendapatkan tingkat interaksi yang dirasakan rendah (Fulford & Zhang, 1993, dalam Hoang, 2015).

Hal ini menunjukan interaksi dapat memengaruhi kepuasan pelajar (Fulford & Zhang, 1993, dalam Hoang, 2015).
Interaksi yang diharapkan pun dapat beragam, hal ini yang menjadikan tuntutan bagi pengajar untuk kreatif. Hal yang terpenting adalah adanya perhatian pengajar pada siswanya sebagai individu maupun bagian dari kelompok besar. Tugas yang diberikan tidak cukup menggantikan komunikasi dua arah pengajar dan siswanya.

Sapaan, perhatian bahkan pertanyaan langsung serta pemberian feedback yang segera terkait hasil pembelajaran siswa merupakan bentuk interaksi yang penting.
Pada kondisi ini, apabila kita kembali pada konsep pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara yang dikenal dengan istilah Among Metode atau Sistem Among. Dalam konteks ini, among mempunyai pengertian menjaga, membina dan mendidik anak dengan kasih sayang. Pelaksana among (momong) disebut Pamong, yang mempunyai kepandaian dan pengalaman lebih dari yang diamong.

Guru atau dosen disebut pamong yang bertugas mendidik dan mengajar siswa sepanjang waktu (Asmuni, 2012). Guru atau dosen harus tetap berperan menempatkan diri dalam interaksi bersama para siswanya. Walaupun kali ini kita juga menitipkan porsi terbesar pada orangtua di rumah tetapi kegiatan membimbing, momong tetap harus dilakukan kepada siswa dalam interaksi dinamis dengan tidak hanya memberikan tugas dan memberi nilai.

Guru atau dosen tetap harus mendorong siswanya memiliki motivasi tinggi sehingga mau berangan-angan dan berkehendak menghasilkan suatu ciptaan dengan dilingkupi nilai-nilai moral-spiritual demi pengembangan semua daya secara seimbang.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close