Seputar Kelahiran Teks NDP

"Kutipan hasil wawancara dengan Sakib Mahmud terkait dengan proses dan perjalanan penyusunan teks NDP HMI"

KETERANGAN terkait latar belakang penulisan Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI bisa dibaca dari tiga buku biografi Cak Nur. Api Islam Nurcholish Madjid ditulis Ahmad Gaus, Cak Nur Sang Guru Bangsa ditulis Wahyuni Nafis dan Otobiografi Demi Islam Demi Indonesia disunting oleh Ihsan Ali Fauzi. Dari ketiga buku itulah cerita bagaimana teks NDP dibuat beredar di kalangan aktivis HMI.

Buku sejarah perjuangan HMI karangan Agus Salim Sitompul menyebut tiga sosok yang terlibat dalam penulisan teks tersebut; Nurcholish Madjid, Sakib Mahmud dan Endang Saefudin Anshori.

Dalam suatu kesempatan di acara Temu Instruktur Nasional NDP,  Sawangan, Depok (12/5/2018) Sakib Mahmud melalui wawancara memberikan keterangan tambahan kepada Faiz Zawahir, Hilman  Wahyudi dan Haji Misbach terkait proses penulisan dan masa-masa penulisan teks tersebut.

Bagaimana sebenarnya latar belakang penulisan NDP menurut Abang?

Ya, memang saya juga akan cerita nanti di forum Temu Instruktur. Pertama, sudah muncul obrolan soal NDP ini sejak kongres ke-8 di Solo tahun 1966. Bung Karno masih presiden. Sudah ada pembicaraan informal antar beberapa orang tentang perlunya diketahui, misi HMI itu apa sih? secara pasti. Sebenarnya kan semua sudah tau. Tapi intinya itu apa.

Siapa saja yang terlibat dalam obrolan itu?

Yang pasti ada waktu itu pak Endang Saefudin, saya, Cak Nur. Yang lainnya saya lupa. Ada juga siapa itu yang dari Malang yang pernah jadi menteri P dan K?… Abdul Malik Fajar. Dan beberapa orang lainnya saya tidak ingat.

Apa urgensi pembicaraan itu?

Waktu itu kan PKI pamornya itu besar sekali di kalangan mahasiswa. Kita kan berhadap-hadapan. Kita mau apa..gitu. Perlulah kita mengerti apa yang akan kita perjuangkan. Dan itu perlu ditulis. Makanya Cak Nur yang ditugasi. Dan kemudian beliau membuat satu tulisan.

Kalau teks NDP lengkap yang sekarang ada, bagaimana teknik penulisannya? Apa Cak Nur menulis dulu, bang Sakib mengedit dan menjadi proof reader?

Cak Nur menulis sebagai ketua, karena ketua umum kan. Sebagai yang dititipi amanah oleh teman-teman itu. Nah kemudian kebetulan pada waktu itu saya sering ke tempat tinggal Cak Nur. Tempat hidup Cak Nur. Beliau kan di Al Azhar waktu itu. Ada satu ruangan di masjid Al Azhar itu. Nah saya kebetulan karena ada kerja di Jakarta. Saya kejar ke  departemen agama yang waktu itu mau masuk pelita pertama. Ambil duit untuk pembangunan masjid Salman 5 juta. Cukup besar. Karena saat itu sistemnya belum terbangun. Lama sekali saya bolak-balik mengurus itu di Bappenas. Karena ngurusnya lama saya datang ke Cak Nur. Dia ngobrol kalau lagi nulis. Belakangan saya baru tau apa yang dulu pernah dibicarakan itu sedang ditulis di situ. Dan pada waktu kongres 9 di Malang, tulisan itu disampaikan, kemudian ditunjuk tiga orang untuk menulis itu. Cak Nur sendiri, Kang Endang dan saya. Itu ditugasi resmi oleh kongres. Setelah itu ada beberapa pertemuan di Bandung.

Di rumah siapa?

Di kantor masjid Salman. Masjidnya belum ada, kantornya sudah ada. Di pertemuan itulah disepakati teksnya. Oleh bertiga yang ditunjuk kongres. Lalu setelah ada kesepakatan, tentu saja karena saya yang paling muda saya yang menuliskan itu. Mulai dari pembagian bab segala macamnya itu. Lalu disampaikan kepada kami bertiga.

Jadi ada teks baru?

Tidak. Tetap tulisan yang disodorkan Cak Nur. Diedit. Diketik ulang. Kemudian pertama kalinya disampaikan dalam seminar kader di Pekalongan tahun 70.

Setelah kongres 1969 memberikan amanat penulisan. Baru selesai tahun 1970? Makan waktu setahun?

Bukan setahun, tidak sampai. Kurang dari setahun. Kemudian setelah penyampaian pada seminar kader itu dirapikan lagi. Saya yang mengerjakan itu. Kenapa? Ya karena paling muda itu. Kalau disuruh-suruh ya pantes lah.

Apa perdebatan yang terjadi waktu itu?

Ya mulai dari judul. Nama bab. Rame lah. Kalau pak Endang dia tegas. Tidak usah pakai judul perjuangan-lah. Nilai Dasar Islam saja. Gak usah ada tanya lagi. HMI kan Islam.

Mengapa pembagian bab di NDP bisa begitu? Apa logikanya?

Wah itu panjang. Dari Cak Nur itu. Ada perubahan-perubahan. Kemudian setelah didiskusikan, lama kan beberapa kali pertemuan di Bandung. Kenapa di Bandung? Karena dua dari tiga itu orang Bandung. Apalagi yang paling tua kan kang Endang, orang Bandung. Jadi Cak Nur yang ke Bandung.

Kang Endang bilang, saya ingat betul. Kalau dia bilangnya tegas aja, Islam. Gitu. Gak usah disamarkan. Ada beberapa usulan judul, Islam Nilai Dasar Perjuangan, kemudian ada beberapa istilah lagi, seperti Nilai Dasar Islam. Hanya kemudian disepakati tetap pada usulan Cak Nur, Nilai Dasar Perjuangan dengan beberapa alasan. Bahwa nanti kan bab-babnya isinya Islam semua. Jadi tidak perlu eksplisit ada kata Islam di judul.

Soal gaya dan bentuk penulisan. Ada footnote, end note?

Ya begini. Memang Cak Nur sudah menulisnya seperti itu. Beliau menulis begitu. Itu kan Qur’an semua isinya. Sudah dari Cak Nur begitu. Kemudian usul ubah beberapa. Itu kan masalah rasa. Masalah makna.

Cak Nur Setuju?

Ya pasti setuju. Kan buktinya berubah. Haha.

Saya bincang-bincang beberapa kali di masjid Al Azhar juga nggak tau akan jadi seperti itu. Itu sudah jadi sebelum ada penugasan. Baru setelah ada kongres dan penugasan, saya baru ingat, kok seperti teks yang dulu pernah dibicarakan. Lalu kalau ada pertanyaa kenapa bertiga itu? Itu kang Endang dia utusan LDMI (Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam) pusat.

Bagaimana bisa mengenal Cak Nur secara pribadi? Apa karena kapasitasnya sebagai ketua?

Cak Nur sebelum jadi ketua kan sudah dikenal pemikirannya tentang Islam. Lalu diundang oleh Salman ITB ke rumahnya lalu dikenalkannya gitu aja.

Selain di Ciputat Cak Nur sudah dikenal ke cabang lain gitu ya?

Iya kan sudah senasional. Jadi ketika saya gak punya kerjaan, nunggu-nunggu yang depak itu kan lama gitu, jadi dari pada saya gak ini mending saya ke Cak Nur saja gitu, namanya juga orang ketemu saya ngobrol macem-macem lah dengan Cak Nur, sebagian obrolannya itu adalah apa yang dirumuskan oleh Cak Nur dalam makalah-makalah di Kongres, kemudian saya diminta oleh Cak Nur untuk menjadi salah seorang perumus gitu, oleh karena itu ketika Cak Nur dengan pak Endang itu ada konflik, sebetulnya tidak terlalu besar konfliknya. Terus terang saja Cak Nur mengatakan pak Endang itu tidak terlalu penting. Tapi ucapannya tidak seperti itu. Mestinya kan tidak perlu pake terutama dalam perihal peran, tapi nyatanya itu yang muncul.

Apa yang membedakannya? Apa karena pemikirannya atau  karena berbeda ORMAS? Cak Nur itu NU dan beliau Persis?

Bukan, Cak Nur kan punya beberapa perbedaan pendapat  dengan Pak Natsir, nah bagi kang Endang penting itu, tidak boleh orang mengkritik pak Natsir gitu. Cak Nur kan banyak keluar juga ya. Kalau sudah bertiga artinya ya sudahlah diterima saja gitu, apakah beliau memberikan kontribusi yang besar atau tidak ya gak usah diomongkanlah ya tapi nyatanya seperti itu.

Kan begini ini kata Cak Nur ya. Ketika beliau ketemu dengan Cak Nur, Kang Endang itu tidak dirangkul, baginya itu hal besar.

Cak Nur bilang paling gak bisa saya rangkul-rangkulan seperti itu paling tidak bisa, ini saya jawab apa adanya ya. Hal yang seperti itu bagi Cak Nur tidak apa-apa. Akan tetapi bagi Kang Endang ya bermasalah. Dan itu tidak merugikan bagi Cak Nur juga, di lain hal Cak Nur juga tidak peduli syariat dianggapnya.

Apa sejak tahun itu Cak Nur sudah dianggap liberal?

Ya, itulah memang, bukan hanya Endang banyak orang yang seperti itu ya.

Tidak perduli syariat itu maksudnya bagaimana?

Ya seperti fiqh itu tidak dianggaplah sama Cak Nur.

Itu karena memang beliau males atau bagaimana?

Tidak, tidak. Itu beda lagilah. Saya sempat seperti ini waktu saya sedang berwudhu sama Cak Nur. Lalu pas wudhu itu dia bertanya kepada saya, “bang Sakib gak pakai cincin jari-jarinya? saya emang gak pakai cincin”.

Terus kata Cak Nur, “Saya juga enggak”. Ya itu dengan saya saja berdua di kantor HMI Cabang Bandung. Saya ingat itu.

Cak Nur bikin teks Bang Sakib mengetik ulang, Kang Endang di mana posisinya?

Iya itu kan hasil daripada pertemuan di Bandung beberapa kali, nah pada waktu di Malang itu sudah disahkan dengan catatan atau diperbaiki. Nah lalu yang tiga orang itu yang ditugasi untuk mengeditnya.

Masih pada bujangan pada waktu itu?

Haha iya masih.

Pada waktu di Bandung Cak Nur ngapain aja, keliling aja atau bagaimana selain rancang NDP?

Saya tidak pernah tau.

Tapi pernah maen keluar?

Saya kira enggak, kan cuma sebentar saja. Ketika sudah selesai itu ya langsung kembali, naik kereta waktu itu. Dan kalau memang Cak Nur akrabnya dengan saya karena ada kesamaan budayanya saja. Sama-sama Jawa. Cuma Kang Endang itu agak peka ya dengan hal seperti itu. Misalnya tidak ditegor. Bagi Cak Nur itu biasa-biasa saja. karena itu kan masalah diri orangnya ya. Tidak terlalu menjadi masalah.

Kalau dengan kawan-kawan Jogja atau Limited Grup itu bagaimana?

Kalau Jogja itu kan menolak.

Menolak NDP?

Iya, bahkan mengajukan sendiri, seperti Ahmad wahib.

Tetapi di bukunya Pergolakan Pemikiran Islam itu dia mengatakan bahwa dia sangat bahagia Cak Nur ikut menyebarluaskan.

Ya mungkin saya salah ya. Sudah lama juga. Sudah enam puluh tahun. Tapi Jogja menyampaikan penolakan itu sudah jelas. Saya kira Ahmad Wahib itu.

Mengkritik teks itu?

Bukan, tapi yang mengusulkan penolakan itu.

Di waktu yang bersamaan dengan Cak Nur?

Iya kan sedang kongres.

Jadi pada waktu kongres itu bukan hanya naskah dari Cak Nur ya?

Iya sudah disepakati ya urusan dengan Wahib ya sudah selesai. Kan komisi NDP itu kan komisi kecil ya, orang males ya mikir kaya gitu, jadi mereka katakan “wah itu komisi para filsuf” haha.

Kenapa pada saat pembahasan teks itu susah? apa karena memang disusun oleh para filsuf, komisi para filsuf?

Nah itu yang saya ingin saya sampaikan kepada temen-temen. Sebetulnya NDP itu jangan hanya masuk dalam pikiran dan benak kader-kader HMI. Akan tetapi harus masuk kedalam Qolbu. Jadi jangan hanya diskusi habis-habisan sampe subuh dan kemudian gak solat, karena saya sudah sering menyaksikan itu.

Penyampaian NDP waktu itu mengunakan teknik apa?

Ya sama saja, ceramah biasa dan tanya jawab biasa. Nah yang saya kepikiran itu bagaimana mengajak kader-kader HMI untuk mewujudkan apa yang terkandung dalam NDP itu dalam sikap dan perbuatan.

Pak Sakib dulukan semangatnya semangat konflik dan era mobilisasi masa. Kemudian organisasi HMI menjadi terbiasa dengan rapat-rapat malam, diskusi-diskusi malam, itu bagus apa enggak untuk kondisi sekarang?

Ya Itu bagus. Tapi kalau itu begitu saja tidak bagus. Karena lebih bagus lagi kader-kader HMI itu lebih menghayati apa yang disampaikan dan ditulis itu dan kemudian mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kader HMI nyatanya sampai korupsi begitu, itu sama sekali tidak islami begitu.

Contohnya adiknya bu Ainun Habibi itu ya satu zaman sama saya, pada waktu khutbah jumat itu dia bukan hanya mampu menyampaikan salam pada Tuhan tapi dia mampu juga mengajak manusia untuk menyampaikan salamnya pada Tuhan. ( )

 

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close