Inilah 3 Penyebab Kenapa Amerika Serikat Menjadi Negara Dengan Jumlah Kasus Covid -19 Terbanyak

Izzu Khizbil Mughist Mahasiswa FISIP UIN Syarif Hidayaullah Jakarta

MUNCULNYA virus corona atau covid-19 yang diawali pada kasus pertama di Kota Wuhan Cina sangat membuat negara-negara lain di berbagai penjuru dunia khususnya di Kawasan Asia Timur mengalami keresahan yang sangat besar. Pasalnya, dampak yang ditimbulkan dari masalah wabah virus corona ini adalah bukan hanya pada keamanan kesehatan, tetapi juga keamanan ekonomi negara dan dampak buruk lainnya bagi negara.

Namun keresahan yang dialami negara-negara saat itu tidak terlalu membuat Amerika Serikat yang berstatus sebagai negara super power yang diklaim memiliki segalanya mengalami kepanikan, AS memberi sikap santai bahkan acuh terhadap masalah pandemi covid-19. Presiden Amerika Serikat Donald Trump awalnya selalu menyikapi dengan tenang terhadap covid-19 ini, bahkan ia menganggap bahwa ini hanya sebatas flu biasa dan bisa ditangani dengan vaksin yang telah dimiliki oleh AS.

Tetapi yang terjadi setelah beberapa minggu kemudian, AS mengalami lonjakan kasus yang sangat banyak bahkan hingga 100%, sehingga membuat situasi negara sangat dilanda kepanikan sama seperti yang terjadi pada kasus negara-negara lain.

Respon pemerintah yang kurang tepat dan cepat menjadi salah satu penyebab, selain itu banyaknya korban juga dikarenakan fasilitas rumah sakit seperti ventilator yang ada di AS itu sangat terbatas, dan kepadatan penduduk kota-kota di AS seperti New York juga menjadi penyebab terjadinya penyebaran Covid-19 yang begitu sangat cepat.

Sikap Pemimpinnya Yang Awalnya Meremehkan
Saat virus Corona mulai menyebar di seluruh wilayah Amerika serikat, Presiden Donald Trump terus berkeras kepala dan menyebutkan bahwa hal tersebut tak perlu dikhawatirkan. Pada awal penyebaran virus corona di AS, Trump berulangkali menekankan bahwa semuanya di bawah kendali dan virus akan menghilang. Kemudian 2 bulan setelahnya AS menjadi negara pertama di dunia yang mencapai lebih dari 215 ribu kasus dan menewaskan lebih dari 5.000 warga Amerika Serikat.

Pada 2 Februari lalu terjadi kasus pertama yang terkonfirmasi di AS yang diumumkan di Washington, namun Trump tetap santai dengan menyatakan bahwa kasus hanya menginfeksi satu orang dari Cina, dan kami bisa mengendalikannya, semua akan baik-baik saja.

Kemudian 3 minggu setelahnya, saat kasus terkonfirmasi sudah ada kurang lebih 60 kasus, Trump masih bersikeras, ia menyatakan bahwa “ini adalah penyakit flu biasa yang kita punya vaksinnya, dan kita akan melakukan vaksinasi flu ini dengan cepat”.

Lambannya sikap pemerintahan Trump dalam menghadapi Covid-19 menajdi salah satu penyebab terjadinya lonjakan yang cukup tajam pada kasus covid-19 di Amerika Serikat. Hal tersebut digambarkan dari leletnya kebijakan-kebijakan penanganan yang ia keluarkan.

Lalu sikap acuh dan menyepelakannya terhadap covid-19 juga tergambar jelas pada pernyataan-pernyataannya yang selalu ia katanya dengan kalimat “Semua akan baik-baik saja”

Kurangnya Kesediaan Ventilator di Rumah Sakit di Amerika Serikat

Kurangnya kesiapan peralatan medis seperti ventilator pada Rumah Sakit di AS menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian yang terjadi di negara tersebut. Ventilator yang berfungsi untuk membantu pernapasan sering kali dibutuhkan oleh pasien yang mengalami masalah pada pernapasan.
Alat ini sangat dibutuhkan untuk pasien karena infeksi virus corona, yang mana virus tersebut dapat menginfeksi paru dan saluran pernapasan sehingga pasien mengalami kesulitan bernapas, karena alat tersebut dapat membantu untuk bernafas dan memberi asupan oksigen pada pasien penderita.

Namun sayangnya, saat awal terjadi pandemi tersebut AS belum mempersiapkan sampai sedemikian rupa, dari tenaga dan fasilitas kesehatan medis pun akhirnya mengalami kekurangan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya lonjakan kematian yang cukup tinggi dikarenakan minimnya stok ventilator yang tersedia untuk pasien covid-19 yang benar-benar sesak dan kesulitan untuk bernafas.

Negara Padat Penduduk
Dikutip dari New York Times, Dr. Steven seorang epidemiolog Stanford University mengatakan bahwa kepdatan penduduk adalah musuh besar dalam situasi seperti sekarang. Artinya, negara yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup padat sangat beresiko terjadi penyebaran virus corona dengan cepat.

Seperti yang terjadi di salah satu kota terpadat di Amerika Serikat yaitu New York, dalam laporan New York Times disebutkan bahwa salah satu alasan terbesar mengapa di sana menjadi yang paling parah dibandingkan dengan kota lain di AS adalah kepadatan penduduk. Dari data Biro Sensus AS, tingkat kepadatan penduduk New York berada di angka 28.000 penduduk per mil persegi. Menurut Elisa Sutanudjaja, semua penykit khususnya khususnya yang dapat menyebar melalui udara atau melalui kontak, kepadatan penduduk selalu berpengaruh.

Kini dikabarkan pada 10/06/2020 Amerika Serikat mendapati total kasus covid-19 sebanyak 2.045.307 kasus, dengan total korban meninggal dunia sebanyak 114.151 orang, dan terkonffirmasi sembuh sebanyak 784.131 orang. Jumlah kasus positif dan meninggal di AS merupakan yang tersebar di dunia.

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close